Opinions

Sudah Saatnya Guru BK Nggak Cuma Urus Potong Rambut dan Sepatu Siswa, tapi Juga Peka Sama Bullying

Sudah Saatnya Guru BK Nggak Cuma Urus Potong Rambut dan Sepatu Siswa, tapi Juga Peka Sama Bullying

Bagi sebagian besar orang, ruang BK mungkin jadi ruangan paling menakutkan di sekolah. Bukan karena hantu atau hal mistis, melainkan vibes-nya yang horor. Apalagi kalau sudah melihat penggaris panjang, gunting raksasa, dan deretan guru berwajah judes yang siap merazia kapan saja. Bahkan, mendengar kata “BeKa” saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Seseram itu. Nyatanya, sejak era milenial sampai Gen Z, citra guru BK rasanya tak banyak berubah. Mereka digambarkan sebagai eksekutor aturan sekolah. Punya rambut sedikit gondrong melebihi kerah baju? Siap-siap dipotong asal-asalan sampai bentuknya mirip mangkok pecah. Pakai kaos kaki polos tanpa logo sekolah atau sepatu yang ada…
Read More
Dilema Jadi Maba Pendiam Pas Ospek: Nggak Berbuat Salah Tapi Tetap Kena Semprot Gegara ‘Kurang Inisiatif’

Dilema Jadi Maba Pendiam Pas Ospek: Nggak Berbuat Salah Tapi Tetap Kena Semprot Gegara ‘Kurang Inisiatif’

Tadi pagi, tepatnya jam 04.30, saya mengantar adik ke kampus untuk mengikuti Ospek. Segala persiapan—mulai dari perlengkapan hingga mental sudah ia siapkan matang-matang. Tak ketinggalan, sepanjang perjalanan mulutnya terus komat-kamit menghafal berbagai mars, hymne, dan lagu khas mahasiswa lainnya. Takut dimarahin sama kating eksekutor katanya. Kejadian itu sontak membuat saya bernostalgia. Dulu, saya juga melakukan hal yang sama. Bedanya, Ospek zaman sekarang rasanya terlalu lempeng. Dramanya kurang cetar membahana, hehe. Dulu kita bener-bener dibikin kesel sekesel-keselnya, karena pasti ada aja yang salah atau kurang lah, jadi pasti dibentak-bentak eksekutor. Maba mana yang tidak ketar-ketir, bung? Hehehe. Sebagai seorang maba pendiam…
Read More
Paradoks Netizen Indonesia, Ramah di Dunia Nyata, Barbar di Dunia Maya

Paradoks Netizen Indonesia, Ramah di Dunia Nyata, Barbar di Dunia Maya

Indonesia dikenal luas sebagai bangsa yang hangat, murah senyum, dan sangat menjunjung tinggi norma kesopanan. Beberapa pelancong juga mengatakan hal serupa dalam beberapa sesi wawancara ketika mereka diminta untuk mendeskripsikan hal yang paling berkesan tentang Indonesia. Namun, pengalaman berbeda ketika kita berada di ruang digital, seperti medsos misalnya, dimana netizen Indonesia justru berbanding terbalik dengan citra yang selama ini melekat di dunia nyata. Ada begitu banyak komentar rasisme, hingga perundungan siber (cyberbullying) yang sangat brutal. Hal ini kemudian memunculkan sebuah kondisi, yakni Paradoks Netizen Indonesia. Dualisme Netizen Indonesia Laporan Digital Civility Index (DCI) yang pernah dirilis Microsoft beberapa tahun lalu…
Read More
Angka Perkawinan di Indonesia Kian Merosot, Ketidakstabilan Ekonomi Kena Sorot?

Angka Perkawinan di Indonesia Kian Merosot, Ketidakstabilan Ekonomi Kena Sorot?

Menjadi seorang asisten advokat membuat saya akrab dengan perkara perdata Islam, terutama perceraian. Setiap hari, pekerjaan saya berputar di sekitar orang-orang yang ikatan rumah tangganya sedang retak. Bahkan, pernah dalam satu hari saja saya mendampingi puluhan klien yang sebagian besar datang dengan satu tujuan, “mengakhiri pernikahan”. Jika sebagian besar orang hanya mendengar berita tingginya angka perceraian melalui televisi atau media sosial, saya menyaksikan sendiri kondisi riil di lapangan. Di tempat tinggal saya, Kabupaten Jember, angka perceraian tahun ini melonjak tajam. Sejak Januari hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 2.211 perkara perceraian masuk, yang mayoritas didominasi oleh cerai gugat yang diajukan pihak…
Read More
Menghidupkan Budaya Kritis di Era Digital

Menghidupkan Budaya Kritis di Era Digital

Pikiran merupakan hal yang paling penting dalam sejarah peradaban manusia. Piara filsuf bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa kekuatan manusia terletak pada pikirannya. Seorang filsuf asal Skotlandia, Sir William Hamilton memberikan satu kutipan yang menohok, “tidak ada yang agung di dalam diri manusia kecuali pikirannya”. Tentu bukan hal aneh ketika pikiran menjadi salah satu objek kajian yang terus-menerus dibahas oleh manusia hingga sekarang. Secara teoritis-praktis, pikiran merupakan sumber suka, duka, penyesalan, hingga kekhawatiran dalam diri manusia. Kompleksitas cara pandang ini kemudian membentuk suatu hal yang disebut “mindset”, yakni sekumpulan kepercayaan atau cara berpikir yang menentukan sikap dan perilaku seseorang. Pikiran Sebagai…
Read More
Nyala Semangat dalam Kapsul Obat

Nyala Semangat dalam Kapsul Obat

Jika harus menyebutkan nama orang terdekat yang paling sabar, saya akan menyebut Ibu. Beliau adalah sosok paling tabah yang pernah saya kenal. Meski harus rutin bolak-balik ke rumah sakit setiap minggu, senyum masih selalu terbit dari wajahnya. Apalagi melihat semangatnya yang terus menyala dan kegigihannya untuk sembuh, membuat hati kecil saya terenyuh. Hingga artikel ini ditulis, setidaknya ada ribuan pil dan kapsul obat yang masuk ke dalam tubuhnya, menyangga untuk bisa beraktivitas seperti sediakala. Tak bisa dibayangkan, butuh berapa banyak kompromi dan kata-kata penguat hati untuk bisa sampai sejauh ini. Sempat Hancur Ketika Didiagnosa Autoimun Saya pernah bertanya bagaimana perasaan…
Read More
Teknologi Tanpa Empati itu Hampa

Teknologi Tanpa Empati itu Hampa

Sumber gambar: Pexels/Cottonbro Studio Saya mendengar salah seorang nyeletuk, “sekarang teknologi semakin maju, tapi sayangnya moral manusianya justru makin mundur, miris ya.” Dan dipikir-pikir, sepertinya celotehan tersebut ada benarnya juga. Apalagi ketika melihat kebiasaan manusia yang saat ini menjadi hampir sepenuhnya berada pada ruang digital, menciptakan sebuah kekhawatiran bagi masa depan umat manusia. Coba kita lihat, di media sosial dirancang untuk mengamplifikasi emosi secara ekstrem, untuk satu tujuan: Engagement. Akhirnya, kita merasa harus selalu up-to-date, sehingga merasa mantengin HP adalah suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Bukankah sangat mengerikan? Ketika Kecepatan Jadi “Standar” Tunggal Seperti yang kita ketahui bersama, perkembangan…
Read More
Menulis atau Tergilas? Nasib Idealisme Anak Muda di Zaman yang Serba Instan

Menulis atau Tergilas? Nasib Idealisme Anak Muda di Zaman yang Serba Instan

Idealisme dari 1 Artikel Dulu, saya ingat sekali seberapa sulitnya perjuangan untuk menulis di blog. Jangankan menulis artikel, saya bahkan tidak memiliki laptop atau komputer sendiri di rumah. Jadinya, mau nggak mau saya harus minjem laptop temen, atau paling tidak ya jalan kaki ke warnet yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari rumah. Batin saya, “hujan badai angin ribut bukan halangan, apapun yang terjadi saya harus nulis”. Entah apa yang ada di benak saya kala itu, tapi yang saya ingat bahwa saya begitu semangat untuk menulis blog. Rasanya, udah seperti orang yang lagi kasmaran. Maklum, blog saat itu masih belum…
Read More
Makna Lomba 17 Agustusan dan Filosofi Tentang Bangsa Indonesia di Baliknya

Makna Lomba 17 Agustusan dan Filosofi Tentang Bangsa Indonesia di Baliknya

Setiap kali menjelang Agustusan, ada satu aroma khas yang membawa kita kembali ke masa kecil, yakni aroma tanah lapang yang kering disertai riuh teriakan dan gelak tawa penonton melihat bapak-bapak berdaster merebut bola. Menurut saya, lomba 17 Agustus selalu punya cerita tersendiri untuk menyatukan kita semua dalam merayakan kemerdekaan. Namun, pernahkah kita bertanya, kenapa apa filosofi di balik lomba-lomba tersebut? Ternyata ada makna yang mendalam dan masih berkaitan dengan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, saya mencoba menuliskannya menjadi sebuah artikel seputar lomba 17 agustus, simak selengkapnya ya.. Panjat Pinang Siapa yang tidak heboh melihat lomba panjat pinang? Apalagi di puncaknya,…
Read More
Kimpul, Jadi Saksi Diversifikasi Pangan Indonesia yang Melimpah

Kimpul, Jadi Saksi Diversifikasi Pangan Indonesia yang Melimpah

source image: TikTok/@black.sheep8208 “Nggak semua harus dikimpul-kimpulkan” Senyum dan tawa saya auto pecah ketika video tentang Kimpul kembali muncul di FYP. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini sejagad maya sedang ramai membicarakan sumber makanan berjenis umbi-umbian tersebut. Awalnya saya belum mengenal apa itu Kimpul. Jangankan Kimpul, menyebutkan ubi dan singkong pun seringkali tertukar. Tentu sangat aneh ketika algoritma TikTok membawa video per-umbi-umbian ini melewati linimasa saya. Namun anehnya, justru dari situ saya jatuh cinta. Cerita ini bermula dari video seorang creator TikTok dengan username @black.sheep8208 yang sering recook makanan kekinian, lalu mengganti salah satu bahan dengan alternatif lain, Kimpul misalnya. Contohnya nih,…
Read More