Opinions

Inilah Alasan Kenapa Menulis Opini Soal Indonesia Sangat Dilematis

Inilah Alasan Kenapa Menulis Opini Soal Indonesia Sangat Dilematis

Kalau ada yang bilang Indonesia itu negeri surgawi, rasanya hampir semua dari kita bakal manggut-manggut setuju. Negeri ini adalah perpaduan antara keindahan alam, makanan terenak di dunia, dan sekaligus arena kebudayaan paling lengkap yang pernah diciptakan Tuhan. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di sini, rasanya mustahil untuk tidak jatuh cinta pada Indonesia. Coba bayangkan: di mana lagi kamu bisa menemukan negara dengan ratusan bahasa daerah yang bisa hidup berdampingan di bawah satu bahasa persatuan? Budayanya kaya luar biasa, mulai dari batik, tari-tarian, hingga tradisi gotong royong yang bikin warga luar negeri takjub. Belum lagi urusan perut. Makanan kita itu…
Read More
Kenyataan Pahit Kerja di Ibu Kota: Belum Sampai Kantor, Badan Sudah Remuk Duluan Kena Desak-desakan

Kenyataan Pahit Kerja di Ibu Kota: Belum Sampai Kantor, Badan Sudah Remuk Duluan Kena Desak-desakan

Beberapa hari lalu, timeline media sosial saya mendadak ramai oleh sebuah video pendek. Isinya bukan tentang mukbang makanan kekinian atau ulasan tempat nongkrong estetik, melainkan rekaman lautan manusia di sebuah stasiun. Mereka saling dorong, sikut-sikutan, dan berusaha merangsek masuk ke dalam gerbong KRL yang kapasitasnya terlihat udah full banget. Awalnya saya pikir itu rekaman situasi darurat atau simulasi evakuasi bencana. Tapi setelah membaca kolom komentar, penuturan para warganet justru bikin elus dada. Pemandangan mengerikan seperti itu ternyata bukan kejadian luar biasa, melainkan agenda rutin harian—senin sampai jumat, pagi dan sore warga Jakarta dan sekitarnya. Melihat visual mengerikan itu, sebuah kesimpulan…
Read More
Memori Indah di Pojok Sekretariat Tabilla, Jadi Tempat Persembunyian Anak Organisasi Paling Aman di Sekolah

Memori Indah di Pojok Sekretariat Tabilla, Jadi Tempat Persembunyian Anak Organisasi Paling Aman di Sekolah

Menjadi bagian dari Tabilla waktu sekolah dulu adalah sebuah kebanggaan tersendiri yang rasa-rasanya sulit tertandingi. Dari sekian banyak organisasi ekskul di sekolah yang rajin pamer piala atau pamer seragam gagah, Tabilla punya pesona rompi sendiri yang seakan jadi ‘Kartu AS’ buat leluasa wira-wiri ketika ada acara yang sedang berlangsung. Bagi yang belum tahu, nama Tabilla itu kependekan dari Taqarrub Billah, yang secara harfiah artinya mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah nama yang sangat religius, adem, dan penuh ikhtiar spiritual. Tapi menariknya, kami yang bergabung di dalamnya punya jargon unik yang rasanya agak-agak "skena" pada zamannya: The Green Carpet Community. Kenapa alasannya?…
Read More
Blogwalking, Tradisi Komen Antar Blogger yang Mulai ‘Punah’

Blogwalking, Tradisi Komen Antar Blogger yang Mulai ‘Punah’

Bagi generasi yang tumbuh dan dewasa di era internet 2000-an awal hingga pertengahan 2010-an, jagat maya pernah menjadi tempat yang terasa sangat personal. Tepat sebelum algoritma media sosial mendikte apa yang harus kita tonton, ada sebuah aktivitas sakral yang saban hari dilakoni anak-anak muda saat nongkrong di warnet atau memanfaatkan sisa kuota modem gantung: blogwalking. Ya, kalau secara harfiah, blogwalking adalah jalan-jalan dari satu blog ke blog lain. Tapi secara esensi, ia adalah bentuk silaturahmi paling tulus di era awal Web 2.0. Aktivitasnya sederhana tapi butuh niat tingkat tinggi. Kita mampir ke blog milik orang lain yang sering kali tidak…
Read More
Terima Kasih BPJS, Kini Ibu Saya Bisa Berobat Tanpa Harus Khawatir Biaya

Terima Kasih BPJS, Kini Ibu Saya Bisa Berobat Tanpa Harus Khawatir Biaya

Tak pernah dibayangkan sebelumnya, Ibu saya yang ceria dan periang didiagnosa penyakit autoimun beberapa tahun silam. Ada kekhawatiran tersendiri ketika pertama kali mengetahui hal tersebut, mulai dari bagaimana kedepannya, termasuk salah satunya perihal biaya pengobatan yang di bayangan kami sepertinya begitu besar. Bagi yang awam, autoimun ini bukan jenis penyakit yang sekali minum obat langsung sembuh. Ini adalah perjalanan panjang dimana ibu harus menjalani pengobatan rutin, dan kontrol secara berkala. Beruntung, keluarga kami mendapatkan bantuan BPJS Kesehatan dari pemerintah. Kehadiran kartu hijau ini benar-benar jadi penyelamat, membuat seluruh biaya pengobatan Ibu yang mahal itu ditanggung sepenuhnya alias gratis. Tantangan baru…
Read More
Antrean Bensin Jember Jadi Bukti Bahwa Solidaritas Panik Kita Memang Tiada Tanding

Antrean Bensin Jember Jadi Bukti Bahwa Solidaritas Panik Kita Memang Tiada Tanding

Sebagai warga Jember yang setiap hari muter-muter area Kampus dan sekitarnya, saya mendadak menemukan fenomena sosial baru yang luar biasa.  Bukan, ini bukan soal Jember Fashion Carnaval yang megah itu. Ini soal fenomena sehari-hari yang jauh lebih konsisten memacetkan jalanan: antrean SPBU yang mengular secara merata hampir di seluruh Jember. Awalnya, isu bensin cepat habis ini muncul sayup-sayup di grup WhatsApp keluarga dan postingan media sosial lokal. Ada yang nyeletuk kalau stok lagi tersendat, ada yang bilang truk tangki terlambat datang. Efeknya? Luar biasa spektakuler. Kios-kios eceran pinggir jalan mulai senyap menyisakan botol-botol kaca yang kosong dari bensin hijau-biru itu.…
Read More
Cinta Ala Anak SMA

Cinta Ala Anak SMA

Kalau kamu rajin memperhatikan buku atau FTV bergenre romance, ada satu pola yang rasanya hampir tak pernah absen: latar sekolah menengah atas (SMA). Mulai dari cerita klasik soal benci jadi cinta, kisah ketua OSIS dan murid pindahan, sampai urusan titip-menitip surat, masa SMA selalu punya panggung istimewa dalam urusan sandiwara manis bernama jatuh cinta. Awalnya, saya mengira itu cuma kemalasan para penulis skenario yang kehabisan ide. Namun, setelah dipikir-pikir lagi secara jernih, alasannya sangat masuk akal. Masa SMA memang menjadi periode di mana cinta berada pada wujudnya yang paling murni, dramatis, sekaligus menggelikan. Saya sendiri pernah berada di posisi itu:…
Read More
Niat Hati Buka HP Buat Belajar, Tahu-Tahu Malah Nontonin Drama Influencer Berantem Sampai Jam Dua Pagi

Niat Hati Buka HP Buat Belajar, Tahu-Tahu Malah Nontonin Drama Influencer Berantem Sampai Jam Dua Pagi

Akhir-akhir ini, saya lagi berusaha membatasi waktu main media sosial. Bukan karena sok anti-sosmed, melainkan biar pekerjaan di dunia nyata bisa kelar tepat waktu. Sebab kalau tidak dibatasi, urusan di kehidupan nyata ini dijamin bakal terbengkalai. Masalahnya, makin lama saya tenggelam di dunia maya, makin susah juga rasanya buat lepas dan kembali ke realitas. Ya, ini yang saya rasakan setidaknya selama seminggu terakhir. Biasanya di malam hari alur skenario saya sederhana. Kurang lebih sekitar pukul sembilan malam, saya membuka laptop dan menggenggam smartphone. Niatnya Cuma satu: Belajar. Satu jam kemudian, langsung tidur. Sekali lagi, ‘niatnya begitu’. Namun, manusia boleh berencana,…
Read More
Sudah Saatnya Guru BK Nggak Cuma Urus Potong Rambut dan Sepatu Siswa, tapi Juga Peka Sama Bullying

Sudah Saatnya Guru BK Nggak Cuma Urus Potong Rambut dan Sepatu Siswa, tapi Juga Peka Sama Bullying

Bagi sebagian besar orang, ruang BK mungkin jadi ruangan paling menakutkan di sekolah. Bukan karena hantu atau hal mistis, melainkan vibes-nya yang horor. Apalagi kalau sudah melihat penggaris panjang, gunting raksasa, dan deretan guru berwajah judes yang siap merazia kapan saja. Bahkan, mendengar kata “BeKa” saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Seseram itu. Nyatanya, sejak era milenial sampai Gen Z, citra guru BK rasanya tak banyak berubah. Mereka digambarkan sebagai eksekutor aturan sekolah. Punya rambut sedikit gondrong melebihi kerah baju? Siap-siap dipotong asal-asalan sampai bentuknya mirip mangkok pecah. Pakai kaos kaki polos tanpa logo sekolah atau sepatu yang ada…
Read More
Dilema Jadi Maba Pendiam Pas Ospek: Nggak Berbuat Salah Tapi Tetap Kena Semprot Gegara ‘Kurang Inisiatif’

Dilema Jadi Maba Pendiam Pas Ospek: Nggak Berbuat Salah Tapi Tetap Kena Semprot Gegara ‘Kurang Inisiatif’

Tadi pagi, tepatnya jam 04.30, saya mengantar adik ke kampus untuk mengikuti Ospek. Segala persiapan—mulai dari perlengkapan hingga mental sudah ia siapkan matang-matang. Tak ketinggalan, sepanjang perjalanan mulutnya terus komat-kamit menghafal berbagai mars, hymne, dan lagu khas mahasiswa lainnya. Takut dimarahin sama kating eksekutor katanya. Kejadian itu sontak membuat saya bernostalgia. Dulu, saya juga melakukan hal yang sama. Bedanya, Ospek zaman sekarang rasanya terlalu lempeng. Dramanya kurang cetar membahana, hehe. Dulu kita bener-bener dibikin kesel sekesel-keselnya, karena pasti ada aja yang salah atau kurang lah, jadi pasti dibentak-bentak eksekutor. Maba mana yang tidak ketar-ketir, bung? Hehehe. Sebagai seorang maba pendiam…
Read More