05
Sep
Kalau kamu rajin memperhatikan buku atau FTV bergenre romance, ada satu pola yang rasanya hampir tak pernah absen: latar sekolah menengah atas (SMA). Mulai dari cerita klasik soal benci jadi cinta, kisah ketua OSIS dan murid pindahan, sampai urusan titip-menitip surat, masa SMA selalu punya panggung istimewa dalam urusan sandiwara manis bernama jatuh cinta. Awalnya, saya mengira itu cuma kemalasan para penulis skenario yang kehabisan ide. Namun, setelah dipikir-pikir lagi secara jernih, alasannya sangat masuk akal. Masa SMA memang menjadi periode di mana cinta berada pada wujudnya yang paling murni, dramatis, sekaligus menggelikan. Saya sendiri pernah berada di posisi itu:…
