Kalau kamu rajin memperhatikan buku atau FTV bergenre romance, ada satu pola yang rasanya hampir tak pernah absen: latar sekolah menengah atas (SMA). Mulai dari cerita klasik soal benci jadi cinta, kisah ketua OSIS dan murid pindahan, sampai urusan titip-menitip surat, masa SMA selalu punya panggung istimewa dalam urusan sandiwara manis bernama jatuh cinta.
Awalnya, saya mengira itu cuma kemalasan para penulis skenario yang kehabisan ide. Namun, setelah dipikir-pikir lagi secara jernih, alasannya sangat masuk akal. Masa SMA memang menjadi periode di mana cinta berada pada wujudnya yang paling murni, dramatis, sekaligus menggelikan.
Saya sendiri pernah berada di posisi itu: jatuh cinta pada seseorang di kelas, yang apesnya langsung tercium oleh radar teman-teman sekelas. Hasilnya? Setiap kali kami kebetulan berpapasan di depan papan tulis atau secara tak sengaja bertatap mata saat jam kosong, jadi riuh suara “Cieeee!”, dan otomatis suara mereka langsung bergema memecah keheningan. Malunya setengah mati, tapi jujur saja, ada rasa senang yang terselip tipis-tipis di balik muka yang memerah itu.
Fenomena “dicie-ciein” oleh teman sekelas ini sebenarnya adalah salah satu ritual paling legendaris dalam sejarah percintaan remaja. Di masa SMA, cinta hampir tak pernah menjadi urusan dua orang saja. Ada keterlibatan kolektif dari kawan-kawan seangkatan yang bertindak sebagai “provokator“—mulai dari yang rajin menjodoh-jodohkan, menyenggol bahu saat lewat di koridor, sampai yang secara sukarela menjadi kurir surat rahasia.
Mengapa cinta di masa SMA terasa begitu membekas dibanding masa-masa setelahnya?

Jawabannya sederhana: karena saat itu kita mencintai seseorang tanpa syarat. Ceilah.
Di usia SMA, jatuh cinta belum terkontaminasi oleh rumitnya kriteria dewasa. Kita tak pusing memikirkan berapa gaji bulanan pasangan, apa pekerjaannya nanti, atau bagaimana prospek masa depannya. Hal yang membuat dada berdesir cuma hal-hal kecil yang sangat sederhana: senyumannya saat piket kelas, wangi minyak wangi yang tertinggal di koridor, atau momen ketika nama kita dipanggil untuk meminjam tipe-X.
Cinta SMA juga berada di persimpangan yang unik. Kita bukan lagi anak SMP yang polos dan bingung dengan emosi sendiri, tapi juga belum menjadi orang dewasa yang dipenuhi tumpukan beban hidup. Kita berada di fase transisi—di mana keberanian dan malu-malu kucing berdampingan dengan sangat tipis.
Maka, tak heran kalau para pembuat novel dan skenario film terus-menerus kembali ke latar ini. Masa SMA adalah ‘gempuran’ kenangan yang tak pernah habis dieksploitasi. Bagi yang sedang mengalaminya, itu adalah puncak kebahagiaan. Dan bagi kita yang sudah melewatinya, membaca atau menonton cerita cinta SMA adalah cara paling murah untuk sejenak melarikan diri dari ruwetnya dunia nyata—sambil mengenang masa-masa ketika hal paling menegangkan dalam hidup hanyalah disoraki satu kelas saat gebetan lewat. Hehe.
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
