Bagi sebagian besar orang, ruang BK mungkin jadi ruangan paling menakutkan di sekolah. Bukan karena hantu atau hal mistis, melainkan vibes-nya yang horor. Apalagi kalau sudah melihat penggaris panjang, gunting raksasa, dan deretan guru berwajah judes yang siap merazia kapan saja. Bahkan, mendengar kata “BeKa” saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Seseram itu.
Nyatanya, sejak era milenial sampai Gen Z, citra guru BK rasanya tak banyak berubah. Mereka digambarkan sebagai eksekutor aturan sekolah. Punya rambut sedikit gondrong melebihi kerah baju? Siap-siap dipotong asal-asalan sampai bentuknya mirip mangkok pecah. Pakai kaos kaki polos tanpa logo sekolah atau sepatu yang ada garis putihnya sedikit? Siap-siap disita dan disuruh nyeker seharian.
Sensasi “menegakkan kedisiplinan” lewat ukuran rambut dan warna sepatu ini tampaknya begitu menggebu-gebu. Padahal, kalau mau jujur, apakah rambut yang agak panjang pernah terbukti menurunkan IQ siswa? Atau apakah sepatu hitam polos tanpa garis putih otomatis bikin anak jadi langganan juara olimpiade? Tentu enggak, dong.
Guru Bimbingan Konseling, Yang Justru Kurang ‘Ngonseling’
Sementara guru BK sibuk mengukur panjang rambut murid memakai mistar, di pojokan kantin atau di grup WhatsApp kelas, ada anak yang mentalnya sedang dihancurkan perlahan-lahan lewat bullying teman sebaya.
Ini ironi yang sangat nyata. Guru BK sering kali punya radar yang sangat tajam untuk hal-hal fisik yang tak substansial, tapi mendadak tumpul dan “buta” ketika ada praktik perundungan di depan mata.
Yang terbaru, ada unggahan dari akun Threads @aahmadnugraha yang menceritakan pengalamannya jadi korban bullying. Bukan cuma cerita, ia bahkan melampirkan bukti video perundungan yang dialaminya di kelas selama tiga tahun penuh sewaktu SMP.
Lihat di Threads
Lah, terus guru BK-nya ke mana?
Usut punya usut, ia ternyata sudah melaporkan kejadian itu. Tapi respons guru BK-nya malah bikin warganet mengelus dada: “Alah, cuma bercanda doang itu mah. Bapak dulu juga begitu.”
Sejak saat itu, kepercayaan ia terhadap ruang BK runtuh total. Ia memilih memendam dan menyelesaikan semuanya sendirian. Literally sendirian.
Netizen geram, saya pun ikut geram. Sepertinya hampir semua orang merasakan disfungsi BK di sekolah. Bayangkan, ketika ada siswa yang dirundung, diolok-olok, bahkan paling parah dipukuli di belakang toilet, respon sekolah khususnya BK sering kali mengecewakan. Kalaupun korbannya berani melapor, jawaban yang didapat paling-paling:
“Ah, kalian kan cuma becandaan, jangan baperan gitu ah.”
“Udah, dimaafkan saja temannya. Jadikan ini ajang buat melatih kesabaran kamu.”
Atau yang paling mutakhir dan bikin elus dada: korban dan pelaku disuruh bersalaman, foto bareng untuk laporan, lalu case closed, alias selesai. Tanpa pernah ada pendampingan trauma buat korban, dan tanpa pernah ada sanksi tegas buat pelaku.
Kembalikan Tugas dan Fungsi BK Sebagaimana Fitrahnya
Sudah saatnya peran guru BK dikembalikan ke fitrahnya. Nama ruangannya saja “Bimbingan dan Konseling“, bukan “Pos Razia dan Eksekusi Rambut“.
Tugas utama guru BK seharusnya menjadi tempat aman (safe space) bagi murid-murid yang sedang kebingungan, tertekan, atau menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah. Mereka harusnya dilatih untuk peka melihat perubahan perilaku anak. Anak yang mendadak diam di pojokan, yang nilainya anjlok, atau yang selalu takut tiap jam istirahat tiba, itu adalah sinyal bahaya yang jauh lebih darurat ketimbang siswa yang lupa pakai sabuk logo sekolah.
Gunting rambut dan warna sepatu yang tidak sesuai, itu hanyalah urusan kecil yang bisa diselesaikan lewat teguran biasa tanpa perlu bikin anak trauma. Tapi luka akibat bullying? Itu bisa membekas sampai puluhan tahun ke depan, bahkan tak jarang berujung pada keputusan fatal dalam hidup seseorang.
Dunia sekolah zaman sekarang makin kompleks. Bullying tak cuma berbentuk pukulan fisik, tapi juga ejekan siber (cyberbullying) yang menyerang mental 24 jam sehari. Jadi, wahai Bapak dan Ibu Guru BK yang terhormat, tolong simpan dulu gunting dan penggarisnya. Buka telinga dan hati lebar-lebar. Siswa-siswi kalian lebih butuh dirangkul dan dilindungi dari perundungan, daripada sekadar dipaksa berseragam rapi tapi hatinya remuk di dalam. (isol/red)
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
