Antrean Bensin Jember Jadi Bukti Bahwa Solidaritas Panik Kita Memang Tiada Tanding

Sebagai warga Jember yang setiap hari muter-muter area Kampus dan sekitarnya, saya mendadak menemukan fenomena sosial baru yang luar biasa.  Bukan, ini bukan soal Jember Fashion Carnaval yang megah itu. Ini soal fenomena sehari-hari yang jauh lebih konsisten memacetkan jalanan: antrean SPBU yang mengular secara merata hampir di seluruh Jember.

Awalnya, isu bensin cepat habis ini muncul sayup-sayup di grup WhatsApp keluarga dan postingan media sosial lokal. Ada yang nyeletuk kalau stok lagi tersendat, ada yang bilang truk tangki terlambat datang. Efeknya? Luar biasa spektakuler.

Kios-kios eceran pinggir jalan mulai senyap menyisakan botol-botol kaca yang kosong dari bensin hijau-biru itu. Pom mini pun serentak menempel kardus bertuliskan “bensin habis”, yang otomatis bikin saya pusing puter otak nyari gimana caranya mengisi tangki motor yang sudah tinggal 1 strip ini. “Wah, kejadian lama keulang lagi nih,” mbatin saya.

Saya sendiri tidak kaget melihat pola ini terjadi di Kabupaten Jember tercinta ini. Setidaknya, seingat saya Jember pernah dua kali diterpa kelangkaan BBM. Kejadian pertama, sekitar akhir Juli 2025, dimana saat itu bensin langka karena pasokan dari Banyuwangi harus terhambat karena pembangunan kembali jalan Gumitir.

Kalau diinget-inget, waktu itu masyarakat Jember chaos banget. Pom bensin Cendrawasih deket kantor saya mendadak diserbu motor dan mobil dari segala arah. Padahal, biasanya pom situ cenderung paling ‘kalem’, tapi saat itu antrian bensin luar biasa panjang sedari tengah malam. Ya, jadi macet poll.

Apalagi pom daerah kampus Polije, behh antriannya bener-bener sampe masuk-masuk perumahan, rek. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidur di mobil, atau bahkan rela nggak tidur sama sekali demi menunggu datangnya truk tangki Pertamina.

BACA  Vox Populi Vox Dei

Gus Fawaid sudah berulang kali menyatakan pasokan bensin aman, tapi entah kenapa warga jember tetap “ngeyel” dan memilih ngantri yang menguras mental banget itu. Untungnya, kurang dari seminggu, histeria mulai mereda, dan masyarakat mulai beraktivitas seperti biasa. Namun saya yakin masing-masing orang masih memiliki trauma yang sama sejak saat itu kalau mendengar kata bensin habis.

Ndilalah, bener kejadian dong. Kali kedua kelangkaan BBM di Jember terjadi karena isu ditutupnya Selat Hormuz, yang entah bagaimana ceritanya membuat warga tiba-tiba memadati pom yang sebelumnya udah adem-ayem. Yang ketiga kalinya terjadi sekarang ini, karena isu stok bensin lagi tersendat. Dan ya, untuk kesekian kalinya saya melihat fenomena yang sama, yakni antrean bensin dimana-mana. *tepok jidat.

Indikator Masih Tiga Strip, Tapi Jiwa Udah Menderita Duluan

Anehnya, kalau kita bedah satu per satu motor yang berbaris rapi kayak mau ujian PBB itu, banyak dari mereka yang indikator bensinnya sebenarnya masih sangat aman. Masih ada tiga strip. Masih cukup buat bolak-balik Jember–Bondowoso dua kali.

Tapi kenapa tetep antre? Jawabannya cuma satu: FOMO panik massal.

Lho, Mas, kok ikut antre? Bensinmu kan masih banyak?

Lha itu orang-orang pada antre, Mas. Daripada nanti saya kehabisan beneran, mending ikutan sekarang.”

Logika semacam ini menular lebih cepat daripada gosip tetangga. Kita ini punya naluri solidaritas yang sangat tinggi, tapi sayangnya sering salah tempat. Begitu melihat ada dua motor berhenti di bahu jalan dekat SPBU, refleks otak kita langsung berbisik: “WAH, ADA ANTREAN BENSIN! HARUS IKUT ANTRI, TAKUT NANTI KEHABISAN JUGA.” Kira-kira begitulah.

Kini, antrean bensin di Jember kini sudah bertransformasi dari sekadar kegiatan mengisi bahan bakar menjadi ritual kebudayaan. Di dalam barisan itu, perbedaan kelas sosial melebur. Bapak-bapak pengendara Supra fit, mbak-mbak Beat karbu sejati, sampai mas-mas NMAX, semuanya setara di barisan ‘pemburu’ Pertalite.

BACA  Paradoks Netizen Indonesia, Ramah di Dunia Nyata, Barbar di Dunia Maya

Sambil nunggu giliran yang lamanya mengalahkan prosesi wisuda, terjadilah obrolan-obrolan hangat khas warga lokal:

  • Saling silaturahmi: Menganalisis Kenapa bensin cepat habis padahal tangki motor ya segitu-segitu aja.
  • Menebar konspirasi: “Ini pasti kelakuan tengkulak,” padahal yang bikin habis ya kita-kita sendiri yang panik pompom tangki.
  • Ajang pamer kesabaran: Siapa yang paling lama bertahan di bawah terik matahari Jember tanpa emosi.

Ternyata Kita Sendiri yang Bikin Kelangkaan Itu Jadi Nyata

Secara teori ekonomi yang sangat sederhana, barang itu nggak akan langsung habis kalau dikonsumsi secara wajar. Tapi dasar warga kita yang punya spirit “daripada rugi mending beli“, rumor bensin langka yang tadinya cuma isu burung, akhirnya benar-benar jadi kenyataan gara-gara aksi panic buying.

Tangki yang biasanya cuma diisi sepuluh ribu rupiah biar bisa buat beli es teh, mendadak dipaksa full tank. Yang punya jeriken di rumah, mendadak teringat kalau jerikennya belum terisi. Hasilnya? Bensin yang harusnya cukup buat tiga hari, ludes dalam hitungan jam. Lalu kita akan mengeluh di media sosial: “Bensin di Jember kok susah banget, ya?” Padahal kalau mau jujur sama diri sendiri, yang bikin susah itu sebenarnya ya solidaritas panik kita yang tiada tanding ini.

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *