Catatan Perjalanan ke Tanoker Ledokombo: Membawa Pulang Rindu dan Nostalgia Masa Kecil yang Penuh Tawa

Di Tahun 2021 silam, saya bareng temen-temen blogger dan influencer sempat diajak Dinas Pariwisata Kabupaten Jember buat mengeksplor Jember lebih jauh, dalam agenda yang diberi nama ‘Jelajah Desa Wisata’. Ada banyak tempat wisata yang kami kunjungi, mulai dari destinasi wisata edukasi, sejarah, dan yang paling memorable, kami melipir dulu ke Tanoker Ledokombo.

Sebelumnya, saya cuman pernah mendengar teman-teman saling bertukar pengalaman mengunjungi tempat tersebut. Beberapa menyebut, tempat ini bak ‘sisi lain’ Kabupaten Jember, yang menawarkan konsep destinasi wisata unik, yakni sambil bermain. Wah, saya ‘kepalang’ mupeng duluan. Jadi kepo, bakal seseru apa sih di sana?

Menemukan Tanoker Ledokombo, Komunitas Seru Kembalikan Kenangan Masa Kecil Dulu

Jaraknya lumayan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, kira-kira 40 menitan kalau dari Dispar Jember (Kantor Lama). Singkat cerita, lin yang kami naiki berhenti di sebuah desa yang asri dan berudara sejuk, dimana berdiri Tanoker Ledokombo. Sebuah komunitas berbasis masyarakat yang dari luar tampak begitu hangat dan membuat kami ingin segera berburu konten, eh.

Secara etimologi lokal, nama Tanoker berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Sebuah simbol tempat berproses, bertumbuh, hingga akhirnya siap terbang menjadi sesuatu yang indah. Namun, bagi saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, Tanoker terasa seperti mesin waktu.

Begitu melangkah masuk ke kawasannya, telinga saya langsung disambut oleh riuh gelak tawa anak-anak desa. Nggak ada dari mereka yang sibuk memegang HP, merengek minta top-up diamond game, atau asyik scrolling video pendek. Di sini, jemari mereka sibuk memegang dua batang bambu panjang yang dinamakan egrang.

Melihat anak-anak itu begitu lincah berlarian di atas bambu yang tingginya melebihi badan mereka sendiri, ada rasa penasaran yang mendadak muncul. Dengan percaya diri yang sedikit kepedean, saya memutuskan untuk mencoba naik. Logika saya sederhana: “Masa menyeimbangkan badan di atas dua bambu saja nggak bisa?

BACA  Mulai 100 ribuan! Daftar Penginapan Murah di Jember

Dan yapppp… Ternyata, realita tak seindah teori di kepala. Baru satu langkah kaki menapak di pijakan egrang, tubuh saya langsung oleng ke kanan-kiri mirip pohon pisang diterjang angin kencang. Hadehh..

Padahal belum sempat melangkah, tapi saya sudah jatuh melangkah turun dengan napas terengah-engah dan betis yang mendadak tegang. Anak-anak yang melihat saya bertingkah kikuk cuma tertawa renyah, lalu dengan sabar mengajari bagaimana caranya menjaga titik tumpu. (auto malu eyy haha)

Di momen jatuh bangun belajar egrang itulah, sebuah kesadaran menghantam saya cukup telak.

Kita yang mengaku manusia modern ini ternyata kerap kali kehilangan hal paling mendasar dalam hidup: keseimbangan dan keberanian untuk jatuh. Di dunia dewasa, kita dituntut untuk selalu sempurna, tak boleh salah, dan pantang terlihat gagal. Namun di Tanoker, di atas dua batang bambu sederhana itu, jatuh bukanlah sebuah aib. Jatuh cuma bagian dari proses belajar. Kalau oleng, ya tinggal pijakkan kaki ke tanah, berdiri lagi, lalu coba lagi sambil tertawa.

Nostalgia masa kecil yang selama ini terkubur oleh keretakan ritme hidup perkotaan mendadak bangkit sepenuhnya. Saya teringat masa-masa di mana kebahagiaan itu rasanya begitu murah dan melimpah: cukup berpeluh keringat di bawah terik matahari, main tanah bersama teman-teman, dan pulang ke rumah dengan baju kotor tanpa beban pikiran soal masa depan.

Nggak cuma soal permainan tradisional, Tanoker Ledokombo juga menyuguhkan kehangatan sosial yang makin langka kita temukan di kota. Di sana, para ibu warga lokal bahu-membahu mengelola dapur, menyajikan kuliner tradisional yang dimasak dengan penuh kasih sayang. Senyum ramah para pengurus dan warga desa membuat siapa pun yang datang tak merasa sebagai “turis”, melainkan sebagai tamu keluarga yang sedang pulang kampung.

BACA  Paradoks Netizen Indonesia, Ramah di Dunia Nyata, Barbar di Dunia Maya

Tanoker adalah bukti nyata bahwa mendidik anak dan membangun ruang aman bagi masyarakat tak selalu butuh gedung bertingkat atau teknologi canggih. Cukup berbekal kebudayaan lokal, rasa kepedulian, dan ruang terbuka untuk bermain bersama, sebuah desa kecil di Jember bisa menebarkan pesan kedamaian bahkan hingga ke kancah internasional.

Setelah puas mengeksplor Tanoker, saya membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: segenggam rindu, serta kenangan nostalgia masa kecil yang penuh tawa. Tanoker Ledokombo berhasil mengingatkan saya bahwa di tengah dunia yang makin gila dan serba cepat ini, bahwa menjadi manusia yang bahagia itu sebenarnya sangat sederhana.

(Best thanks to mas dito, atas hasil fotonya yang warbiyasah…)

(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *