Di kawasan kampus Kabupaten Jember—mulai dari Sumbersari, Jalan Jawa, sampai Jalan Sumatra—ada satu fenomena yang tak pernah absen tiap akhir bulan: antrean kedai mie ayam bakso Wonogiri yang membludak.
Bahkan, semasa kuliah dulu, sempat terlintas pikiran di kepala saya: “Ini kedai mie ayam bakso Wonogiri kan ada di mana-mana, kenapa Wonogiri nggak sekalian dijuluki Kota Mie Ayam Bakso saja?”. Karena jujur, ketika berkeliling Jember saja, saya beberapa kali berpapasan dengan kedai tersebut di titik yang berbeda, jadi saya berasumsi pasti di Kota asalnya lebih membludak lagi.
Alasan Mie Ayam Bakso Wonogiri ‘Digandrungi’ Mahasiswa: Harga Murah, Porsi Melimpah, Apalagi Soal Rasanya Jangan Ditanya
Bagi mahasiswa perantauan, memilih tempat makan di akhir bulan itu bukan cuma soal selera, tapi tentang bertahan hidup. Bayangkan, dengan modal belasan ribu rupiah saja—nominal yang kalau dibuat beli coffee shop cuma dapat es batu—kamu sudah bisa menyantap semangkuk mi kenyal dengan porsi yang nggak pelit.
Potongan daging ayamnya tipe-tipe yang berbumbu semur. Trus, gurih-manisnya juga pas, disiram kuah hangat beraroma rempah, plus bonus daun sawi segar. Kalau lagi ada rezeki lebih, tinggal minta tambah ceker atau bakso urat yang rasanya bikin lupa sejenak sama derita revisi skripsi.
Hebatnya lagi, para perantau asal Wonogiri ini seperti punya formula ajaib yang diturunkan lewat genetik. Mau makan di Sumbersari kek, Jalan Jawa, atau sudut mana pun, standar rasanya selalu konsisten: gurihnya pas, sambalnya mantap, dan porsinya dijamin bikin kenyang seharian.
Beh, nikmat duniawi banget.
Kabupaten Wonogiri Akhirnya Mendeklarasikan Diri Jadi Ibu Kota Mi Ayam Bakso
Pada 3–4 Juli 2026 silam, Kabupaten Wonogiri secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso. Perayaannya pun dibuat meriah lewat helatan Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri di Alun-Alun Giri Krida Bakti.
Momen ini jadi makin spesial karena sukses memecahkan rekor MURI lewat penyajian 5.555 porsi mi ayam bakso secara gratis. Sebuah angka fantastis yang kalau diboyong ke kawasan kampus Jember, dijamin bisa membahagiakan ribuan mahasiswa di tanggal tua. Hehe.
Deklarasi ini turut memperkuat identitas Wonogiri sebagai penggerak ekonomi warga lewat sektor kuliner. Hasilnya nyata: kedai mereka kini menjamur di hampir seluruh pelosok Indonesia. Rasanya hampir semua orang sepakat, mi ayam bakso Wonogiri selalu menduduki kasta tertinggi dalam peta per-mi-an Nusantara.
Maka, tak berlebihan rasanya jika saya—sebagai warga Jember yang perutnya sering diselamatkan oleh gerobak Wonogiri—turut mengakui dan menghormati Wonogiri sebagai Ibu Kota Mie Ayam dan Bakso Indonesia. (isol/red)
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
