Angka Perkawinan di Indonesia Kian Merosot, Ketidakstabilan Ekonomi Kena Sorot?

Menjadi seorang asisten advokat membuat saya akrab dengan perkara perdata Islam, terutama perceraian. Setiap hari, pekerjaan saya berputar di sekitar orang-orang yang ikatan rumah tangganya sedang retak. Bahkan, pernah dalam satu hari saja saya mendampingi puluhan klien yang sebagian besar datang dengan satu tujuan, “mengakhiri pernikahan”.

Jika sebagian besar orang hanya mendengar berita tingginya angka perceraian melalui televisi atau media sosial, saya menyaksikan sendiri kondisi riil di lapangan. Di tempat tinggal saya, Kabupaten Jember, angka perceraian tahun ini melonjak tajam. Sejak Januari hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 2.211 perkara perceraian masuk, yang mayoritas didominasi oleh cerai gugat yang diajukan pihak istri.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Ternyata, faktor ekonomi menjadi penyebab utamanya. Bahkan, sekitar 90% perkara perceraian yang saya tangani berakar dari masalah yang sama: suami tidak bertanggung jawab atas nafkah atau istri merasa kurang diberi nafkah, dan alasan sejenis lainnya.

Beberapa netizen kemudian menyinyir realita kehidupan saat ini yang dianggap sangat beresiko untuk membina rumah tangga. Bahkan, beberapa diantaranya beranggapan, “nggak nikah juga nggak papa, kalo emang belum mampu”. Sebuah fakta, bahwa pernikahan tidak hanya dipandang sebagai sebuah sikap romantisisme belaka, namun sebuah konsekuensi yang harus dipikirkan matang-matang.

Fenomena “Marriage is Scary” di Kalangan Gen-Z

Tahun 2023 silam, sempat lewat di linimasa saya, Ma’ruf Amin, wakil presiden Indonesia kala itu meminta Gen-Z tidak tunda nikah. Hal ini dikarenakan munculnya ketakutan akan merosotnya jumlah populasi di Indonesia, yang akan berpengaruh pada generasi mendatang.

Namun demikian, pernikahan kini tak lagi dipandang sebagai “gerbang emas” menuju kebahagiaan, melainkan sebuah keputusan finansial paling berisiko tinggi. Tren masyarakat yang enggan atau menunda menikah bukan lagi sebatas fenomena di negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan, sinyal bahaya ini kini telah menyala terang di Indonesia dengan fenomena “Marriage is Scary”.

BACA  Nyala Semangat dalam Kapsul Obat

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan angka pernikahan yang sangat signifikan selama beberapa tahun terakhir. Tercatat, angka pernikahan di Indonesia menyentuh 1.577.255 pada tahun 2023. Jumlah tersebut merosot sebanyak 128.000 dibandingkan tahun 2022, sekaligus menandai penurunan signifikan sebesar 28,63 persen dalam sepuluh tahun terakhir

Jika dulu menikah dianggap sebagai fase hidup yang “otomatis” dijalani saat memasuki usia dewasa, kini makin banyak generasi muda yang memilih berhenti dan berpikir ulang, “apakah nikah masih worth di zaman sekarang?

Ketidakstabilan Ekonomi Jadi “Biang Keroknya”

Bisa dikatakan, ketidakstabilan ekonomi secara langsung membentuk ulang cara pandang generasi muda terhadap skala prioritas hidup. Menikah tidak lagi ditempatkan di puncak daftar pencapaian puncak (milestone). Sebaliknya, prioritas anak muda kini beralih pada kemandirian finansial, pelunasan utang, hingga kesehatan mental yang dirasa harus diselesaikan terlebih dahulu.

Kondisi ini juga melahirkan perubahan persepsi sosial. Menunda pernikahan atau memilih untuk tidak menikah (resigned singlehood) tidak lagi dipandang sebagai sebuah kegagalan, melainkan pilihan rasional untuk bertahan hidup. Generasi hari ini lebih takut pada kemiskinan pascanikah dan perceraian akibat masalah finansial daripada sekadar stigma “terlambat menikah”.

Jika dipikirkan kembali, kondisi negara saat ini memang sedang pelik dan penuh ketidakpastian. Sangat masuk akal jika banyak generasi muda enggan membesarkan anak, mengingat belum adanya kestabilan di berbagai sektor. Keadaan mungkin baru akan berubah apabila negara mampu menghadirkan jalan keluar nyata atas permasalahan ini. Bagaimana pendapat kalian?

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *