Niat Hati Buka HP Buat Belajar, Tahu-Tahu Malah Nontonin Drama Influencer Berantem Sampai Jam Dua Pagi

Akhir-akhir ini, saya lagi berusaha membatasi waktu main media sosial. Bukan karena sok anti-sosmed, melainkan biar pekerjaan di dunia nyata bisa kelar tepat waktu. Sebab kalau tidak dibatasi, urusan di kehidupan nyata ini dijamin bakal terbengkalai.

Masalahnya, makin lama saya tenggelam di dunia maya, makin susah juga rasanya buat lepas dan kembali ke realitas. Ya, ini yang saya rasakan setidaknya selama seminggu terakhir.

Biasanya di malam hari alur skenario saya sederhana. Kurang lebih sekitar pukul sembilan malam, saya membuka laptop dan menggenggam smartphone. Niatnya Cuma satu: Belajar. Satu jam kemudian, langsung tidur. Sekali lagi, ‘niatnya begitu’.

Namun, manusia boleh berencana, tapi algoritma media sosial juga yang menentukan.

Karena ketika baru pertama kali buka layar kunci smartphone saja, saya disuguhi sebuah video rekomendasi dengan judul yang sangat provokatif: “Akhirnya Buka Suara! Kronologi Lengkap Perselisihan Antara Si A dan Si B (EKSKLUSIF)”. Lengkap dengan thumbnail wajah sang seleb yang dipasang foto cemberut, efek tulisan kapital warna merah menyala, dan garis lingkar kuning yang tak jelas fungsinya buat apa.

Awalnya, otak kecil saya mencoba melawan: “Jangan diklik! Kan harus belajar materi hukum!” Tapi otak besar yang haus akan hiburan murah meriah menyahut lebih kencang: “Halah, nonton lima menit aja buat cuci otak sebentar, habis itu lanjut belajar lagi. Santai.”

Dan lima menit yang dijanjikan itu adalah kebohongan terbesar abad ini.

Begitu video diputar, lima menit pertama terasa sangat seru. Dua belas menit berikutnya, saya mulai terseret arus. Satu jam kemudian, saya bukannya kembali ke materi hukum, melainkan sudah berpindah aplikasi ke X (Twitter) demi memantau thread kronologi yang dibuat oleh akun menfess. Nggak berhenti di situ, jam satu malam saya malah sudah terdampar di kolom komentar TikTok untuk membaca teori konspirasi dari netizen yang analisisnya kalah-kalah detektif Conan. Hadeuhh *tepok jidat.

BACA  Mengakui Wonogiri Sebagai Ibu Kota Mie Ayam Bakso, Penyelamat Perut Mahasiswa di Tanggal Tua

Tahu-tahu, jarum jam dinding sudah menunjuk ke angka dua pagi. Mata rasanya sepet, leher pegal, otak panas, dan materi yang niat awal mau dipelajari sama sekali belum tersentuh. Nol besar.

Kalau dipikir-pikir pakai logika sehat, apa untungnya coba saya mengetahui konflik internal dua orang asing yang bahkan nggak kenal sama keberadaan saya di muka bumi ini? Nggak ada. Apakah mengetahui siapa yang salah di antara mereka bisa membantu analisis saya besok? Jelas tidak.

Tapi inilah misteri terbesar dari psikologi netizen Indonesia: mikir itu capek, sedangkan nonton orang ribut itu menyegarkan jiwa.

Belajar itu membutuhkan energi ekstra. Otak dipaksa memproses informasi rumit, memahami konsep baru, dan menahan rasa kantuk yang datang bertubi-tubi. Sementara itu, menyaksikan drama influencer berantem cuma butuh daya serap emosi tanpa perlu analisis tingkat tinggi. Kita tinggal duduk manis, memangku dagu, memakan keripik, lalu ikut emosi sendiri seolah-olah kita adalah hakim yang berhak menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Algoritma media sosial pun tahu betul tabiat buruk kita ini. Mereka paham betul kalau manusia pada dasarnya adalah makhluk yang kepo dan hobi gosip. Maka, begitu jempol kita tertahan dua detik saja di video drama, algoritma akan langsung menyemburkan puluhan video sejenis ke beranda kita. Edukasi dipinggirkan, sensasi diberi panggung utama.

Akhirnya, malam itu ditutup dengan rasa penyesalan yang mendalam. Sambil mematikan layar HP yang makin terasa panas, saya membatin dalam hati sambil menatap langit-langit kamar kos: “Besok-besok janji nggak bakal gini lagi. Besok fokus belajar!”

Sebuah janji manis yang saya sendiri tahu betul bakal menguap begitu saja ketika esok malam ada influencer lain yang bikin video klarifikasi baru.

BACA  Cinta Ala Anak SMA

(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *