Tadi pagi, tepatnya jam 04.30, saya mengantar adik ke kampus untuk mengikuti Ospek. Segala persiapan—mulai dari perlengkapan hingga mental sudah ia siapkan matang-matang. Tak ketinggalan, sepanjang perjalanan mulutnya terus komat-kamit menghafal berbagai mars, hymne, dan lagu khas mahasiswa lainnya. Takut dimarahin sama kating eksekutor katanya.
Kejadian itu sontak membuat saya bernostalgia. Dulu, saya juga melakukan hal yang sama. Bedanya, Ospek zaman sekarang rasanya terlalu lempeng. Dramanya kurang cetar membahana, hehe. Dulu kita bener-bener dibikin kesel sekesel-keselnya, karena pasti ada aja yang salah atau kurang lah, jadi pasti dibentak-bentak eksekutor. Maba mana yang tidak ketar-ketir, bung? Hehehe.
Sebagai seorang maba pendiam (atau istilah kerennya, introvert yang terjebak di kerumunan massa), strategi awal saya sederhana. Saya mematuhi semua tata tertib yang diberikan eksekutor. Nametag karton berukuran 20×30 cm terpasang presisi di dada. Pita merah-putih juga sudah terikat rapi di songkok. Peralatan tulis, buku, dan segala tetekbengeknya sudah masuk tas ransel hitam saya. Logika saya kala itu simpel: kalau saya tidak buat ulah, saya aman.
Namun, ternyata saya keliru besar. Di mata kating eksekutor, kepatuhan mutlak tanpa ekspresi adalah dosa besar.
Suatu siang menjelang sore di tengah terik lapangan kampus, seorang senior berwajah tegang menghampiri barisan saya. Beliau menatap saya dengan pandangan mengintimidasi, mata melotot, dan dada menyungging gagah.
“Kamu! Kenapa dari tadi diam saja?! Nggak punya mulut?!” bentaknya, suaranya menggelegar mengalahkan toa panitia.
Saya kedip-kedip. Bingung. “Maaf, Kak. Saya menyimak,” jawab saya sepelan mungkin, berusaha tetap sopan.
“Menyimak tapi nggak ada inisiatif! Teman kamu di ujung sana lagi kebingungan bawa perlengkapan, kamu cuma berdiri kayak patung! Mana rasa kebersamaanmu?!”
Saat itu juga saya paham satu hal: jadi maba pendiam itu ibarat kata seperti buah simalakama. Mau aktif angkat suara dikira cari perhatian (caper), mau diam santai dikira apatis dan ‘kurang inisiatif’.
Panitia ospek tampaknya punya standar ideal maba yang seragam: harus lantang, harus heboh, dan kalau bisa, harus siap teriak-teriak menyuarakan jargon kelompok setiap tiga menit sekali. Bagi orang-orang yang mengisi ulang energinya lewat ketenangan, ospek bukan sekadar ajang pengenalan kampus, melainkan ujian bertahan hidup dari kepura-puraan. Kita dipaksa berpura-pura menjadi sosok yang ramah-tamah secara berlebihan demi memuaskan indikator penilaian panitia yang absurd.
Padahal, tidak semua orang yang diam itu pasif. Ada yang diam karena sedang mengamati situasi, ada yang diam karena energinya habis dipakai mikir makna teka-teki makanan, dan ada juga yang diam karena… ya memang dasarnya pemalu saja.
Lagipula, istilah ‘kurang inisiatif’ sering kali cuma jadi alasan serbaguna panitia ketika mereka kehabisan bahan untuk membentak. Kalau maba bikin salah, dimarahi karena lalai. Kalau maba tidak salah, dimarahi karena ‘kurang inisiatif’. Sebuah logika tertutup yang sangat rapi.
Untuk adik-adik maba pendiam di luar sana yang mungkin sedang atau akan mengalami nasib serupa: tenang saja. Senyum tipis, anggukkan kepala, dan biarkan bentakan itu berlalu angin lalu. Ospek cuma berlangsung beberapa hari, tapi karakter asli kalian—yang tak perlu diumbar lewat teriakan di lapangan—akan bertahan sampai lulus nanti.
Terlepas dari Itu Semua, Ospek Tetap ‘Worth It’ Buat Dikenang

Saya tidak menampik, bahwa ospek dan segala dinamikanya masih dibutuhkan dan memiliki banyak sisi positif. Selain dapat memperkenalkan lingkungan kampus kepada maba, ospek juga jadi ladang mengenang memori indah bersama teman-teman seangkatan.
Kalau saya sendiri masih menyimpan kenangan bersama teman-teman Kelompok 66 PBAK IAIN Jember Tahun 2019 yang diampu Kak Feri dan Kak Ita. Meski berlangsung cukup singkat, yakni mulai 21-26 Agustus 2019, namun 6 hari itu menjadi hari yang panjang dalam proses pengenalan kami semua. Huh, jadi kangen hehe..
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
