Buku Sebait Rindu dan Impian Menjadi Penulis Buku

Bagi saya, menulis bukan sekadar persoalan merangkai kata demi kata hingga menjadi baris-baris kalimat yang padu. Lebih dari itu, menulis adalah tentang bagaimana kita menghayati hidup dan “mengabadikan” keberadaan diri di dunia.

Saya selalu teringat pada adagium Latin yang kerap diucapkan oleh dosen saya di bangku kuliah: “Verba volant, scripta manent”—apa yang diucapkan akan terbang dan hilang, sedangkan apa yang dituliskan akan tetap abadi.

Ketertarikan saya pada dunia kepenulisan sudah tumbuh sejak kecil. Tanpa ingat pasti kapan persisnya, sejak berada di bangku Sekolah Dasar (SD), saya sudah gemar mencoret-coret lembaran kertas. Di sela-sela jam istirahat sekolah misalnya, saya memberanikan diri merangkai puisi dan syair sederhana. Menulis menjadi sahabat karib yang mengisi waktu luang, sebuah ruang sunyi tempat saya mengekspresikan diri sekaligus berusaha tetap produktif.

melihat kegemaran tersebut, beberapa guru dan teman menyarankan agar saya mencoba mengirimkan karya ke majalah atau koran-koran lokal. “Siapa tahu dapat honor,” begitu dorongan mereka. Maklum, lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu membuat iming-iming honor tulisan terasa sangat menggiurkan. Saya berpikir, tak ada salahnya mencoba peruntungan demi membantu perekonomian keluarga.

Namun, kenyataan di lapangan tak seindah bayangan. Tulisan demi tulisan saya kirimkan ke berbagai redaksi media massa, tetapi tak satu pun yang membuahkan hasil. Surat kabar yang saya tunggu-tunggu tak pernah memberikan balasan. Rasa putus asa sempat menghampiri. Saya mulai meyakini bahwa tulisan saya mungkin memang buruk dan tidak layak dibaca oleh khalayak umum.

Menemukan Oase di Dunia Digital

Di tengah puing-puing keputusasaan itu, gejolak untuk terus berkarya nyatanya tidak benar-benar padam. Kepala saya masih dipenuhi ide-ide yang terus berputar dan menuntut untuk ditumpahkan. Titik balik pertama terjadi ketika saya mengenal media baru: platform blog.

BACA  Cari Jasa Content Placement 2026 Terbaik? Faisol.id Jawabannya

Dunia blogging membuka cakrawala baru yang mengubah cara pandang saya. Melalui blog, saya tidak hanya menemukan wadah bebas untuk mempublikasikan karya secara mandiri, tetapi juga menyerap berbagai tips kepenulisan, membangun relasi sesama penulis, hingga mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan berbagai perusahaan nasional, multinasional, dan internasional. Hobi yang semula dianggap sepele mulai mendatangkan pundi-pundi penghasilan—sebuah bonus tak ternilai bagi seseorang yang begitu “gila” menulis.

Sayangnya, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Ujian terberat justru datang dari lingkaran terdekat. Di saat semangat menulis sedang membara, beberapa sanak saudara dan anggota keluarga menentang jalan yang saya pilih. Hancur rasanya tatkala mendengar orang-orang terdekat menganggap aktivitas menulis sebagai pekerjaan yang sia-sia dan tidak memiliki masa depan.

Namun, cibiran tersebut tidak membuat lilin cita-cita saya padam. Pertentangan itu justru saya jadikan bahan bakar untuk membuktikan bahwa menulis adalah jalan hidup yang bermanfaat dan bermakna.

Sebait Rindu, Jadi Semangat Baru

Usaha keras dan pembuktian itu akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 2016. Naskah kumpulan puisi yang saya susun dengan penuh keringat lolos seleksi di sebuah penerbit dan diterbitkan secara gratis. Buku pertama itu saya beri judul “Sebait Rindu“.

Kehadiran buku Sebait Rindu mendongkrak mental dan rasa percaya diri saya secara drastis. Saya mulai berani melangkah lebih jauh dengan terjun ke arena kompetisi blog yang sangat ketat. Dari satu perlombaan ke perlombaan lain, saya kerap menelan kekecewaan dan kegagalan. Namun, setiap kegagalan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan dalam merangkai narasi.

Kegigihan itu membuahkan hasil manis pada tahun 2017. Karya tulisan yang saya sertakan dalam sebuah lomba blog nasional berhasil menyabet posisi sebagai pemenang utama, dan saya berhak membawa pulang hadiah smartphone keluaran terbaru.

BACA  Angka Perkawinan di Indonesia Kian Merosot, Ketidakstabilan Ekonomi Kena Sorot?

Buku Sebait Rindu bukan sekadar catatan karya pertama, melainkan bukti nyata bahwa mimpi seorang anak sederhana untuk menjadi penulis buku dapat diwujudkan melalui ketekunan. Dari selembar kertas lusuh di jam istirahat SD hingga memegang buku cetak sendiri, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa selama kita konsisten mengabadikan jejak lewat tulisan, pintu kesempatan dan penghargaan akan terbuka pada waktunya.

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *