Inilah Alasan Kenapa Menulis Opini Soal Indonesia Sangat Dilematis

Kalau ada yang bilang Indonesia itu negeri surgawi, rasanya hampir semua dari kita bakal manggut-manggut setuju. Negeri ini adalah perpaduan antara keindahan alam, makanan terenak di dunia, dan sekaligus arena kebudayaan paling lengkap yang pernah diciptakan Tuhan.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di sini, rasanya mustahil untuk tidak jatuh cinta pada Indonesia. Coba bayangkan: di mana lagi kamu bisa menemukan negara dengan ratusan bahasa daerah yang bisa hidup berdampingan di bawah satu bahasa persatuan? Budayanya kaya luar biasa, mulai dari batik, tari-tarian, hingga tradisi gotong royong yang bikin warga luar negeri takjub. Belum lagi urusan perut. Makanan kita itu tier A+: rendang, soto, nasi goreng, sampai gorengan pinggir jalan yang krispinya bisa melupakan masalah hidup sejenak. Orang-orangnya pun terkenal ramah, murah tersenyum, dan punya daya humor tingkat dewa yang sanggup merespons tragedi sosial dengan meme.

Tapi, nah ini dia tapi-nya

Menulis opini tentang negeri tercinta ini sering kali bikin jari kita mendadak ragu. Ada dilema besar yang selalu membayangi.

Di satu sisi, kita ingin memuji dan membanggakan Indonesia setinggi langit. Tapi di sisi lain, kenyataan di lapangan sering kali menampar kita untuk bangun. Ada begitu banyak hal yang rasanya mendesak untuk diperbaiki: fasilitas publik, birokrasi yang berbelit-belit, ketimpangan ekonomi yang makin kasat mata, hingga perilaku oknum pejabat yang rasanya tak pernah kehabisan ide untuk bikin rakyat geram.

Di sinilah letak dilemanya. Kalau kita terlalu banyak memuji, kita takut dianggap naif atau malah dicap gimmick romantisme belaka yang menutup mata dari realita. Tapi kalau kita terus-terusan mengkritik dan membeberkan kebobrokan, ada saja yang bilang, “Gak nasionalis!” atau “Kalau gak suka, pindah negara aja!”

BACA  Teknologi Tanpa Empati itu Hampa

Padahal, mengkritik Indonesia itu bukanlah tanda benci, melainkan bentuk kasih sayang paling realistis. Kita ingin rumah yang kita tinggali ini makin makin bagus, nyaman, dan layak untuk semua orang. Menulis opini tentang Indonesia adalah usaha terus-menerus menyeimbangkan rasa bangga dan rasa gemas.

Apa yang Aku Dapat Selama 30 Hari Menulis Rutin di Blog

Dilema menulis tentang Indonesia ini makin terasa ketika aku memberanikan diri mengambil tantangan: merdeka menulis, yakni menulis rutin di blog setiap hari selama 30 hari tanpa putus.

Awalnya, proyek ini cuma sekadar pembuktian diri, apakah aku bisa konsisten? Tapi setelah melewati hari ke-30, ternyata ada banyak pelajaran berharga yang kudapatkan lebih dari sekadar jumlah postingan blog:

  1. Kehabisan Ide Itu Mitos

Di minggu pertama, aku sempat panik: besok mau nulis apa lagi? Tapi makin ke sini, aku sadar bahwa bahan tulisan itu melimpah di sekitar kita. Observasi harian—mulai dari kelakuan bapak-bapak di pos ronda, obrolan ibu-ibu di pasar, sampai problematika desak-desakan di KRL—semuanya bisa jadi bahan tulisan yang menarik kalau kita cukup peka untuk melihatnya dari sudut pandang yang beda.

  • Menulis Adalah Cara Terbaik Memproses Emosi

Saat melihat berita yang bikin dada sesak atau kejadian di jalanan yang bikin mood hancur, menulis di blog jadi ruang katarsis yang sangat menyehatkan. Daripada ngamuk tak berarah di media sosial, menuangkannya menjadi sebuah tulisan opini membantu memilah emosi marah menjadi argumen yang lebih tertata.

  • Disiplin adalah Kunci

Menunggu “wangsit” atau inspirasi datang untuk menulis itu jebakan batman. Kalau menunggu mood bagus, 30 hari itu tak akan pernah selesai. Pelajaran paling berharga adalah: duduk, buka laptop, dan tulis saja dulu. Tulisan jelek selalu bisa diedit, tapi halaman kosong tak bisa diapa-apakan.

  • Kritik Terbaik Datang dari Rasa Cinta
BACA  Blogwalking, Tradisi Komen Antar Blogger yang Mulai ‘Punah’

Selama 30 hari ini, beberapa kali aku menulis topik-topik kritik sosial. Dari situ aku makin paham, menulis kritik bukanlah bentuk keputusasaan. Justru karena kita peduli dan berharap ada perbaikan, jemari ini masih mau mengetik.

Menulis tentang Indonesia memang dilematis, nurani kita sedang berada di persimpangan antara ingin membanggakan indahnya, atau gemas ingin membenahi bobroknya. Tapi pada akhirnya, menulis adalah cara kita merekam dan mencintai negeri ini dengan cara yang paling jujur.

(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *