Teknologi Tanpa Empati itu Hampa

Sumber gambar: Pexels/Cottonbro Studio

Saya mendengar salah seorang nyeletuk, “sekarang teknologi semakin maju, tapi sayangnya moral manusianya justru makin mundur, miris ya.” Dan dipikir-pikir, sepertinya celotehan tersebut ada benarnya juga.

Apalagi ketika melihat kebiasaan manusia yang saat ini menjadi hampir sepenuhnya berada pada ruang digital, menciptakan sebuah kekhawatiran bagi masa depan umat manusia. Coba kita lihat, di media sosial dirancang untuk mengamplifikasi emosi secara ekstrem, untuk satu tujuan: Engagement.

Akhirnya, kita merasa harus selalu up-to-date, sehingga merasa mantengin HP adalah suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Bukankah sangat mengerikan?

Ketika Kecepatan Jadi “Standar” Tunggal

Seperti yang kita ketahui bersama, perkembangan teknologi digital saat ini dinilai begitu masif, bahkan mulai bermunculan beragam inovasi di bidang Artificial Intelligence (AI). Ada yang fokus pada otomatisasi suara, gambar, tulisan.

Semuanya berlomba-lomba menjadi yang tercepat di bidangnya. Namun, pernahkah ada suatu diskusi yang concern membahas terkait dampak kecanggihan teknologi terhadap empati manusia itu sendiri?

Pada hakikatnya, Teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun, jika hanya terpaku pada efisiensi, kecepatan, dan profitabilitas semata, justru ia kehilangan ruhnya.

McStay dalam karyanya berjudul “Emotional AI: The Rise of Empathic Media” menekankan pentingnya desain teknologi yang dapat mengenali aspek emosi pengguna secara kontekstual, sebagai dasar terciptanya ruang digital yang lebih manusiawi. Hal ini berfungsi sebagai alat kontrol agar perkembangan teknologi tetap pada tujuan awalnya, yakni kemanfaatan pada umat manusia.

Menghidupkan Emotional AI dan Ruang Digital yang Manusiawi

Pandangan McStay membawa perspektif baru dalam lingkup teknologi modern. Memasukkan unsur empati kepada Teknologi saat ini, tidak bisa dipandang sebagai langkah menolak kemajuan. Justru sebaliknya, empati dapat menjadi moral kompas agar tercipta keselarasan antara manusia, alam, dan teknologi sebagai alat (tools).

BACA  Solusi IoT Meningkatkan OEE Adalah Kunci Kesuksesan Industri

Manfaatnya, akan ada 3 hal utama yang dirasakan:

  1. Menjaga Kesehatan Mental: Desain interface yang bertanggungjawab dan berempati, akan membangun ruang interaksi yang sehat, tidak membuat kecanduan, serta menjaga psikologi penggunanya.
  2. Aksesibiltas yang Inklusif: Teknologi yang berempati juga akan melahirkan akses bagi seluruh lapisan manusia, tanpa terkecuali. Hal ini bermula dari pandangan bahwa semua orang berhak atas akses informasi yang sama, tanpa membeda-bedakan aspek apapun.
  3. AI Menjadi Lebih Beradab dan Bebas Bias: Algoritma dan kecerdasan buatan dirancang untuk menghormati hak-hak privat penggunanya, dan merdeka tanpa bias rasial maupun gender.

Mendudukkan Kembali Manusia Sebagai Innovator

Bagi saya, bukan tidak mungkin manusia akan digantikan oleh AI ataupun teknologi semacamnya. Jika manusia terus-menerus bergantung pada sistem tersebut, justru manusia akan kehilangan kemampuan berpikir kritis, sehingga berdampak buruk pada peradaban di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, hemat saya perlunya revitalisasi manusia sebagai puncak inovator di Bumi. Tentunya, melalui pembahasan yang lebih khusus menyoal emotional AI, termasuk juga pengaplikasiannya pada sistem kecanggihan buatan yang sudah ada.

SUMBER RUJUKAN:

Pramita Sekar Dwi Pangesti dan Ranu Iskandar, “Menggabungkan Teknologi dan Empati untuk Mewujudkan Dunia Digital yang Lebih Manusiawi”, Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 2, No. 6, hlm. 166-170.

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *