source image: TikTok/@black.sheep8208
“Nggak semua harus dikimpul-kimpulkan”
Senyum dan tawa saya auto pecah ketika video tentang Kimpul kembali muncul di FYP. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini sejagad maya sedang ramai membicarakan sumber makanan berjenis umbi-umbian tersebut.
Awalnya saya belum mengenal apa itu Kimpul. Jangankan Kimpul, menyebutkan ubi dan singkong pun seringkali tertukar. Tentu sangat aneh ketika algoritma TikTok membawa video per-umbi-umbian ini melewati linimasa saya. Namun anehnya, justru dari situ saya jatuh cinta.
Cerita ini bermula dari video seorang creator TikTok dengan username @black.sheep8208 yang sering recook makanan kekinian, lalu mengganti salah satu bahan dengan alternatif lain, Kimpul misalnya.
Contohnya nih, yang sekarang lagi trending kreator tersebut mencoba recook Dubai Chewy Cookie yang viral, namun karena tidak memiliki Marshmallow, jadi ia ganti Kimpul, jadi namanya “Kimpul Chewy Cookie”.
Jadi, ciri khas kreator tersebut selalu mengatakan “….karena saya tidak memiliki (nama bahan makanan), maka saya ganti KIMPUL.” Saya yakin mayoritas warga TikTok pasti tertawa mendengar ucapan tersebut, karena nyaris diucapkan tanpa ekspresi.
Tak heran, sebagian netizen menjuluki kreator asal Bantul tersebut sebagai “Duta Diversifikasi Pangan”, ada juga yang menyebut “Duta Ketahanan Pangan” yang jujur menurut saya cocok banget, sih... mengingat kelihaiannya dalam membuat beberapa olahan hanya dari satu sumber bahan pangan.
Membuka Cakrawala Baru, Bahwa Ternyata Pangan Indonesia Sangat Bervariasi
Selain lucu dan menghibur, konten Kimpul sekaligus membuat hati kecil saya bergumam, “Ternyata Indonesia itu kaya banget dan se-bervariasi itu ya. Kok bisa-bisanya selama ini saya hanya kepikiran satu bahan pangan saja?”
Fenomena Kimpul seolah menampar kesadaran kita yang selama ini hidup dalam ketergantungan pangan yang homogen. Sedari kecil, mayoritas dari kita mungkin sudah didoktrin bahwa “kalau belum makan nasi, berarti belum makan”. Padahal, realitanya tanah kita merupakan surga pangan, apapun yang ditanam dapat tumbuh subur disini, sebagaimana lirik:
“….. Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat Kayu dan Batu jadi tanaman…..”
Kimpul, atau dalam bahasa ilmiah disebut Xanthosoma sagittifolium, merupakan salah satu tanaman dari jenis talas-talasan (araceae) yang tumbuh subur di bumi Nusantara. Bentuknya mungkin tidak secantik buah-buahan impor, permukaannya kasar dan sering kali tertutup sisa tanah. Namun, begitu dikupas, dikukus, atau diolah menjadi keripik yang renyah, kimpul menyajikan cita rasa gurih yang lembut serta bikin nagih.
Fenomena Kimpul di Media Sosial, Meningkatkan Awareness Gen-Z Terkait Ragam Pangan Indonesia

Fakta bahwa sesuatu yang kaku dan instruktif biasanya jarang diterima anak muda, memang benar adanya. Bayangkan, jika ada seminar terkait Diversifikasi Pangan Nasional, berapa banyak anak muda yang mau meluangkan waktu untuk hadir? Mungkin sangat sedikit.
Kalau boleh saya katakan, “udah males duluan”. Karena yang dibahas itu-itu aja, tanpa memberikan contoh ril seperti apa keberagaman pangan yang sebenarnya.
Namun, pesan itu berbeda jika dikemas melalui narasi sosial media yang jujur, jenaka, dan relatable, impact-nya justru luar biasa. Kalimat “bisa diganti kimpul aja nggak sih?” jadi slogan tersendiri, yang seakan-akan Kimpul ini bak Superman yang apa-apa bisa gitu, lho. Jadi banyak yang penasaran, kan?
Ujung-ujungnya, anak muda yang sebelumnya asing dengan istilah kimpul, talas, garut, gembili, hingga gembili, mendadak berbondong-bondong mencari tahu. Mereka mulai bertanya pada orang tua mereka di rumah, mencari resep olahannya di internet, bahkan tak sedikit yang sengaja membeli di pasar tradisional demi menuntaskan rasa penasaran.
Refleksi dari viralnya Kimpul ini, membawa kita pada isu yang lebih krusial, yakni Ketahanan Pangan Nasional. Menggantungkan jutaan rakyat Indonesia pada satu komoditas bahan pangan adalah strategi yang beresiko.
Mengapa saya katakan demikian? Karena ketika terjadi suatu hal, misal terjadinya perubahan iklim (climate change), atau jika terjadi krisis pasokan bahan pangan, masyarakat akan menjadi yang paling terdampak, jika tidak punya alternatif lain.
Padahal, jauh sebelum modernisasi di Nusantara, nenek moyang kita telah lebih dulu mempraktikkan kearifan lokal dalam mengonsumsi pangan. Masyarakat Papua dan Maluku memiliki sagu yang melimpah, warga Nusa Tenggara piawai mengolah jagung dan sorgum, sementara masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah mengandalkan aneka umbi seperti ubi kayu, singkong, dan kimpul.
Pada intinya, Kimpul jadi saksi bisu bahwa Indonesia sejatinya memiliki benteng ketahanan pangan yang sangat kokoh. Umbi-umbian ini memiliki daya tahan tinggi, mudah ditanam tanpa memerlukan pupuk kimia berlebih, dan mampu tumbuh di lahan-lahan marginal.
Kalau ditinjau dari sudut pandang nutrisi, kimpul kaya akan karbohidrat kompleks, rendah indeks glikemik, serta tinggi serat, tentu sangat cocok bagi mereka yang ingin menerapkan pola hidup lebih sehat.
Jadi gimana? Kalau saya mau ngedate tapi pasangannya nggak ada, apakah bisa diganti Kimpul juga? Eh.
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
