Idealisme dari 1 Artikel
Dulu, saya ingat sekali seberapa sulitnya perjuangan untuk menulis di blog. Jangankan menulis artikel, saya bahkan tidak memiliki laptop atau komputer sendiri di rumah. Jadinya, mau nggak mau saya harus minjem laptop temen, atau paling tidak ya jalan kaki ke warnet yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari rumah.
Batin saya, “hujan badai angin ribut bukan halangan, apapun yang terjadi saya harus nulis”. Entah apa yang ada di benak saya kala itu, tapi yang saya ingat bahwa saya begitu semangat untuk menulis blog. Rasanya, udah seperti orang yang lagi kasmaran. Maklum, blog saat itu masih belum populer, jadi ada perasaan menggebu-gebu untuk mengenal lebih dekat. Ceileh…
Sesampainya di sana pun ngggak langsung jadi satu artikel gitu aja. Saya berusaha mengetik satu-demi-satu kata. Menyusun satu-per-satu kalimat, agar menjadi satu paragraf yang padu. Tak jarang, alarm warnet berbunyi terlebih dahulu sebelum jadi satu artikel. Ujung-ujungnya… yup, seperti yang kalian kira, masuk draft lagi, hehe.
Kesel? Engga sih. Karena waktu itu emang niatnya pengen nulis aja, orientasinya sekadar hobi, mengisi waktu luang, have fun gitu lah. Jadi, mau nulis apapun bawaannya seneng, ada semacam kepuasan tersendiri ketika berhasil mempublikasikan artikel.
Menjamurnya AI dan Konten Cepat, Bikin Idealisme Anak Muda Makin “Jebol”
Sangat kontras dengan perjuangan menulis saya dulu, sekarang semua orang dimanjakan dengan kemudahan mengakses mesin kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk berbagai keperluan, menulis salah satunya.
Kemudahan ini nyatanya tidak serta merta membuat peradaban manusia menjadi lebih baik. Karena justru yang terjadi sebaliknya, kecanggihan teknologi ini membawa sisi buruk bagi perkembangan kemampuan manusia. Tidak sedikit orang yang mengandalkan AI, apa-apa AI, sedikit-sedikit AI, hingga berujung pada stagnasi berpikir.
Belum lagi, maraknya konten cepat juga berpengaruh pada cara anak muda berpikir. Di FYP kita misalnya, konten berdurasi 15 detik atau utas singkat yang dibuat asal-asalan justru mendapat ribuan likes hanya karena sensasional. Hal ini yang menyebabkan daya sorot (attention span) audiens merosot tajam. Kita dipaksa mengonsumsi informasi dari sisi permukaannya saja, cepat, dangkal, dan mudah dilupakan.
Namun demikian, tentu rasanya juga sangat mustahil bilamana kita harus hidup 100% tanpa AI. Karena sejatinya, manusia akan butuh pada teknologi untuk mempermudah berbagai pekerjaan hidup.
Jadi, langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan memposisikan teknologi dan AI sebagai alat bantu untuk menulis. Bukan sebagai penentu utama, melainkan asisten dalam membantu merapikan berbagai hal, mencari referensi awal, untuk selanjutnya kita kembangkan sendiri menjadi suatu artikel yang baik.
Kesimpulan
Pada akhirnya, pertanyaan “Menulis atau Tergilas?” menjadi tamparan filosofis bagi kita semua, terutama diri saya sendiri. Hal ini memaksa kita kembali merenungi satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya tujuan kita menulis? Apakah sekadar hobi yang kini bernilai ekonomis, ataukah sebuah kebutuhan hidup yang tak bisa ditawar?
Dari perjuangan sederhana yang mungkin terdengar konyol di atas, saya makin tersadar bahwa idealisme mungkin tidak akan membuat kita kaya dalam semalam. Namun, ia memastikan satu hal yang sangat berharga: bahwa suara, rasa, dan pemikiran kita tetap hidup dan berdampak.
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
