Masihkah Kita Mendongeng Sebelum Tidur? Cara Sederhana Menjaga Legenda Nusantara Agar Tak Punah

Kalau diingat-ingat lagi, masa kecil generasi 2000-an dulu sebenarnya cukup menarik. Sebelum ada algoritma YouTube Kids atau tontonan kartun 24 jam nonstop di HP, hiburan paling menanti sebelum tidur adalah dongeng dari orang tua. Tanpa efek visual CGI mahal, cuma bermodalkan suara ibu yang diubah-ubah ala radio drama, kita sudah bisa terbawa ke alam mimpi dengan hebohnya.

Saya sendiri masih ingat betul bagaimana saban malam dicekoki berbagai macam cerita rakyat. Waktu itu, dua dongeng yang masuk jajaran best seller di rumah adalah kisah Malin Kundang dan Batu Belah Batu Bertangkub.

Saking hidupnya cerita itu di kepala saya dan adik, kami bisa beneran panik dan menangis sesenggukan di part tertentu. Pas bagian Malin Kundang berubah jadi batu sambil minta ampun, atau pas si ibu di cerita Batu Belah masuk ke dalam batu ajaib karena kelakuan anak-anaknya yang nakal, rasa bersalah langsung memenuhi dada. Malam itu juga, kami mendadak jadi anak paling penurut se-kecamatan karena takut kualat. *Ya Allah, inget banget.

Kekayaan Cerita yang Mulai Tergeser Algoritma

Kalau bisa dibilang, kekayaan legenda Nusantara itu sebenarnya melimpah luar biasa. Kita punya Sangkuriang, Roro Jonggrang yang menuntut seribu candi dalam semalam, Keong Emas, Danau Toba, hingga cerita kancil yang cerdik tapi kadang manipulatif. Setiap daerah dari Sabang sampai Merauke punya stok cerita magisnya masing-masing.

Sayangnya, tradisi mendongeng sebelum tidur perlahan mulai tergeser. Saat anak rewel atau susah tidur, benteng pertahanan terakhir orang tua zaman sekarang sering kali adalah menyodorkan layar ponsel. Dongeng sebelum tidur berganti jadi putaran video pendek tanpa henti.

Lebih dari Sekadar Pengantar Tidur, Mendongeng Jadi Hal yang Paling Berkesan Semasa Kecil

Padahal, mendongeng selama 10 hingga 15 menit ternyata punya dampak yang tidak bisa digantikan oleh gawai canggih mana pun.

BACA  Review YouGov Indonesia, Platform Survei Online Berbayar 2026

Pertama, soal nilai moral yang disisipkan tanpa kesan menggurui. Seperti yang kita ketahui, anak-anak paling benci kalau dinasehati secara langsung dengan kalimat, “Kamu harus nurut ya! Ngga Boleh Ini Itu, bla bla bla….” Tapi lewat cerita rakyat, mereka belajar sendiri konsep sebab-akibat, empati, kejujuran, dan rasa hormat lewat alur cerita yang seru.

Kedua, yang paling krusial, soal bonding atau ikatan emosional. Suara hangat ibu atau ayah yang membacakan cerita di remang kamar adalah memori kenyamanan yang bakal membekas sampai anak dewasa. Kontak mata, usapan di kepala, dan tawa bersama saat menirukan suara karakter cerita adalah bentuk ikatan emosional yang tidak akan pernah tergantikan di aplikasi mana pun.

Oleh karena itu, menjaga legenda Nusantara agar tak punah sebenarnya tidak perlu melalui seminar kebudayaan yang muluk-muluk. Cukup buka kembali buku cerita tua di lemari, duduk di samping si kecil sebelum mematikan lampu, dan mulailah berucap: “Pada zaman dahulu kala…

By Faisol Abrori

Tertarik menulis beragam hal seperti bisnis, teknik marketing, dan lain sebagainya. Untuk keperluan kerja sama, kirim email ke: faisolabrori5@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *