Jika harus menyebutkan nama orang terdekat yang paling sabar, saya akan menyebut Ibu. Beliau adalah sosok paling tabah yang pernah saya kenal. Meski harus rutin bolak-balik ke rumah sakit setiap minggu, senyum masih selalu terbit dari wajahnya. Apalagi melihat semangatnya yang terus menyala dan kegigihannya untuk sembuh, membuat hati kecil saya terenyuh.
Hingga artikel ini ditulis, setidaknya ada ribuan pil dan kapsul obat yang masuk ke dalam tubuhnya, menyangga untuk bisa beraktivitas seperti sediakala. Tak bisa dibayangkan, butuh berapa banyak kompromi dan kata-kata penguat hati untuk bisa sampai sejauh ini.
Sempat Hancur Ketika Didiagnosa Autoimun
Saya pernah bertanya bagaimana perasaan Ibu semenjak pertama kali didiagnosa Autoimun 5 Tahun siam. Sedih, hancur, dan rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu. Dunia seolah runtuh seketika saat dokter menyampaikan vonis tersebut. Bayang-bayang masa depan yang dipenuhi rasa sakit dan ketergantungan pada medis sempat melumpuhkan harapannya.
Penyakit Autoimun tidak seperti penyakit kebanyakan yang langsung terlihat dari perubahan fisik yang dialami penderitanya, karena penyakitnya justru bersumber dari dalam, yakni imun tubuh. Beberapa orang bahkan tidak menduga Ibu sedang sakit, “Loh, kayak kelihatan sehat tapi…”
Ya, sekilas memang terlihat sehat bugar. Namun berdasarkan penuturan langsung Ibu, tubuhnya merasakan sakit yang teramat setiap harinya, badannya pun mudah merasakan lelah. Lagi-lagi, semua itu karena penyakit yang diderita Ibu.
Sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru keliru menyerang sel-sel sehatnya sendiri.
Kapsul Obat dan Keajaiban Senyuman
Namun, ketakutan itu tidak dibiarkannya berlangsung terlalu lama. Ibu memilih untuk bangkit dan berdamai dengan kenyataan. Setiap kapsul dan pil obat yang harus diminumnya saban hari tak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai ikhtiar dan pengikat harapan untuk terus bertahan hidup.
Di tengah perjuangan yang menguras fisik dan emosi itu, keteguhan hati Ibu menjadi pilar kekuatan bagi keluarga kami. Beliau jarang mengeluh. Di saat tubuhnya melemah pascapengobatan, beliau masih menyempatkan diri untuk menyapa anak-anaknya dengan kehangatan yang sama. Senyumnya seolah menegaskan bahwa penyakit boleh saja menyerang fisiknya, tetapi tidak akan pernah bisa menyentuh jiwa dan semangatnya.
Perjalanan melawan autoimun memang sebuah maraton panjang tanpa garis akhir yang pasti. Namun, dari setiap langkah tertatih dan setiap kapsul obat yang ditelannya, Ibu mengajarkan arti ketabahan yang sesungguhnya. Hal ini membuktikan bahwa di balik tubuh yang rapuh, ada nyala semangat yang tak pernah padam.
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog nasional bersama Omjay Guru Blogger Indonesia https://wijayalabs.com/)
