FAISOL.ID – Indonesia dikenal sebagai negeri tropis yang kaya akan hutan, laut, dan pegunungan. Namun, ada satu fenomena alam yang membuat negeri ini begitu istimewa di mata dunia, yakni salju abadi di Puncak Jayawijaya, Papua.
Sayangnya, keunikan itu diperkirakan hanya tinggal kenangan. Sejumlah penelitian dan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa lapisan es di puncak tertinggi Papua tersebut akan benar-benar hilang pada tahun 2026.
Fenomena Langka di Negeri Tropis
Puncak Jayawijaya, atau yang juga dikenal dengan nama Carstensz Pyramid, berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Di titik inilah, Indonesia memiliki gletser tropis yang sangat langka.
Keberadaannya menjadikan Jayawijaya masuk dalam daftar destinasi pendakian kelas dunia, bahkan menjadi salah satu dari “Seven Summits” yang diincar para pendaki internasional.
Melihat hamparan es di negeri khatulistiwa tentu menjadi pengalaman luar biasa. Namun, keajaiban ini kian rapuh. BMKG menyebut, dalam beberapa dekade terakhir, lapisan es terus menyusut dengan laju mencemaskan.
Data Penyusutan yang Mengkhawatirkan
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pemantauan sejak 2010 menunjukkan tren penurunan signifikan. Ketebalan es yang semula mencapai 32 meter pada 2010, menipis menjadi hanya 5,6 meter pada periode 2015–2016. Sementara dari sisi luasan, es yang pada 2022 tercatat seluas 0,23 kilometer persegi, kini tinggal 0,11–0,16 kilometer persegi per tahun 2024.
“Riset yang dilakukan BMKG oleh Tim Klimatologi memprediksi di tahun 2026 dikhawatirkan es ini sudah punah,,” ujar Dwikorita dalam keterangannya.
Hal senada disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq. Ia menegaskan bahwa monitoring yang dilakukan Kementerian menunjukkan kondisi es kian menipis dan hampir mustahil bertahan lebih lama.
Dampak Perubahan Iklim
Penyebab utama pencairan gletser ini adalah perubahan iklim global. Suhu bumi yang terus meningkat mempercepat pencairan es, ditambah dengan fenomena El Niño yang memperparah kenaikan suhu di kawasan tropis. Selain itu, pembukaan hutan di Papua turut memperburuk kondisi dengan meningkatkan pelepasan karbon dioksida.
Keberadaan salju abadi di Jayawijaya menyimpan banyak keunikan. Pertama, ia merupakan satu-satunya salju tropis yang dimiliki Indonesia. Kedua, lokasinya berada di kawasan Pegunungan Sudirman yang kaya akan bentang alam karst dan mineral. Ketiga, keberadaan gletser ini menjadi laboratorium alami bagi ilmuwan untuk meneliti perubahan iklim.
Bagi masyarakat adat Papua, khususnya suku Dani, gletser Jayawijaya memiliki makna spiritual. Hilangnya salju bukan hanya kehilangan keajaiban alam, tetapi juga kehilangan warisan budaya yang telah bertahan lebih dari lima ribu tahun.
Perlu Kesadaran Bersama
Hilangnya salju abadi Jayawijaya adalah peringatan serius bagi dunia. Jika fenomena langka di khatulistiwa saja bisa punah dalam hitungan tahun, maka tidak ada jaminan keajaiban alam lain akan tetap bertahan.
Mitigasi perubahan iklim, pengurangan emisi karbon, serta pergeseran ke energi terbarukan menjadi langkah mendesak. Edukasi publik juga perlu diperkuat agar masyarakat memahami bahwa dampak perubahan iklim nyata adanya, bukan ancaman jauh di masa depan.

